Belajar dari yang
sudah terjadi.

Membedah apa yang berjalan baik dan apa yang salah — dari kegagalan maupun keberhasilan — agar ke depan bisa lebih baik.

333Kasus
210Bedah Kasus
123Bedah Sukses
330Sektor
1850–2023Rentang Tahun

Analisis Mendalam

Root cause 4 lapis, bukan sekadar rangkuman berita.

Sumber Terverifikasi

Tiap klaim punya link verifikasi ke sumber asli.

Insight Actionable

Pelajaran konkret yang bisa diterapkan founder.

Kasus yang Tersedia

Bedah KasusSelesai|E-Commerce Fashion / D2C / Retail Tech

Sorabel (eks Sale Stock — PT Sale Stock Indonesia)

Sorabel — sebelumnya bernama Sale Stock — adalah startup e-commerce fashion asal Indonesia yang didirikan pada 2014 oleh pasangan suami-istri Lingga Madu dan Ariza Novianti dari sebuah garasi di Yogyakarta. Berangkat dari pengamatan bahwa perempuan di luar kota besar sulit menemukan pakaian bergaya dengan harga terjangkau, mereka mulai dengan menjual fashion murah lewat Facebook dan WhatsApp, lalu membangun platform yang membuat lini fashion sendiri (memangkas perantara) dan memperkenalkan layanan inovatif 'Coba Dulu, Bayar Kemudian' (Try First, Pay Later) — pelanggan bisa mencoba pakaian di rumah sebelum memutuskan membeli. Inovasi ini menjawab masalah keterjangkauan, kualitas, dan kepercayaan belanja online. Sorabel sempat menjadi salah satu situs fashion e-commerce paling banyak dikunjungi di Indonesia (peringkat ke-2 pada akhir 2018/awal 2019), meraih ~9% pangsa pasar fashion wanita, 5 juta+ unduhan aplikasi, dan mempekerjakan sekitar 800 karyawan. Total pendanaan yang dihimpun menembus US$49 juta dari investor seperti Kejora Ventures, Gobi Partners, OpenSpace, Convergence Ventures, MNC Media Investment, dan SMDV, ditambah venture debt dari InnoVen Capital. Namun di balik traksi itu, model bisnisnya membakar kas: lini fashion sendiri menanggung risiko inventory, sementara layanan 'coba dulu/bayar di tempat' menimbulkan biaya logistik tinggi, tingkat retur besar, dan risiko kecurangan. Pada 2019 Sale Stock melakukan rebranding menjadi Sorabel dan mengejar putaran Series C — terutama dari investor China — untuk menuju profitabilitas. Ketika pandemi COVID-19 datang pada awal 2020, putaran itu gagal terkunci. Sorabel sempat menutup anak usahanya di Filipina (Yabel) pada Februari 2020 untuk memangkas kerugian, tetapi kas tetap menipis. Pada akhir Juli 2020, perusahaan mengumumkan penutupan dan masuk proses likuidasi; seluruh karyawan diberhentikan per 30 Juli 2020 — Sorabel bahkan merilis direktori talenta engineering untuk membantu mantan karyawannya mencari kerja. Pelajaran utama Sorabel: inovasi produk yang dicintai pengguna tidak menjamin keberlanjutan bila unit economics-nya membakar kas dan perusahaan bergantung pada putaran pendanaan berikutnya. COVID-19 dan gagalnya Series C adalah pemicu langsung, tetapi cash burn tinggi dari model 'try-first-pay-later' + integrasi vertikal, serta ketergantungan pada modal eksternal, adalah akar masalah yang sesungguhnya.

Baca laporan
13 Jun 2026, 09.54 WIB
Bedah KasusSelesai|PropertyTech / Marketplace Properti / Portal Online

Rumah.com (PropertyGuru Indonesia)

Rumah.com adalah salah satu portal/marketplace properti online terbesar di Indonesia, dimiliki dan dioperasikan oleh PropertyGuru Group — konglomerat teknologi properti asal Singapura yang melantai di bursa NYSE (lewat SPAC) pada 2022. Selama lebih dari 10 tahun, Rumah.com menjadi tempat jutaan orang Indonesia mencari rumah, apartemen, dan properti komersial, menghubungkan pencari properti dengan agen dan pengembang. Namun pada 21 Agustus 2023, PropertyGuru mengumumkan akan menghentikan operasional Rumah.com per 30 November 2023, bersamaan dengan mematikan platform SaaS FastKey di Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Yang membedakan kasus ini: PropertyGuru menegaskan penutupan bukan karena industri properti Indonesia melemah, melainkan keputusan strategis untuk merealokasi investasi ke sektor-sektor bisnis yang menunjukkan pertumbuhan, serta perlunya 'merampingkan operasional secara hati-hati' — terutama di tengah tekanan disiplin profitabilitas pasca-IPO dan persaingan portal properti yang ketat (terutama melawan Rumah123). Penutupan berdampak pada 61 karyawan, namun PropertyGuru menanganinya dengan relatif bertanggung jawab: memberikan pesangon di atas ketentuan undang-undang, memperpanjang asuransi kesehatan, menyediakan layanan outplacement tiga bulan, hingga membantu transisi karier. Perusahaan juga berkomitmen melayani agen dan mitra pengembang hingga 30 November, lalu mengembalikan biaya yang telah dibayarkan sesuai kontrak dan melunasi kewajiban ke vendor. Pelajaran utama Rumah.com: nasib sebuah unit bisnis lokal sering ditentukan oleh kalkulasi portofolio induk globalnya, bukan oleh kondisi pasar lokal itu sendiri. Sebuah unit bisa ditutup meski pasarnya sehat, semata karena induk memilih memfokuskan modal ke tempat lain — terutama setelah menjadi perusahaan publik yang dituntut menunjukkan jalur profitabilitas. Bagi talenta dan mitra, kasus ini juga menjadi contoh bahwa penutupan pun bisa dilakukan dengan cara yang menjaga martabat pemangku kepentingan.

Baca laporan
13 Jun 2026, 09.54 WIB
Bedah KasusSelesai|Streaming / Media / Hiburan Digital

Quibi

Quibi (singkatan dari 'quick bites') adalah layanan streaming video bentuk-pendek premium asal AS yang didirikan oleh legenda Hollywood Jeffrey Katzenberg (salah satu pendiri DreamWorks, mantan eksekutif Disney) dan dipimpin CEO Meg Whitman (mantan CEO eBay dan HP). Idenya: konten berkualitas studio dalam episode 5–10 menit, dirancang khusus untuk ponsel, dengan teknologi 'Turnstyle' yang memungkinkan menonton mulus dalam mode vertikal maupun horizontal. Dengan reputasi para pendirinya, Quibi menghimpun dana fenomenal US$1,75 miliar dari studio besar (Disney, NBCUniversal, Sony), Alibaba, dan investor lain — bahkan sebelum meluncurkan produk apa pun. Ekspektasinya raksasa: jutaan pelanggan dan disrupsi cara orang menonton di sela-sela kesibukan. Quibi diluncurkan pada 6 April 2020 — tepat saat pandemi COVID-19 memuncak di AS. Taruhan intinya runtuh seketika: Quibi bertumpu pada konsumsi 'on-the-go' (menonton saat komuter, mengantre, rehat) yang lenyap karena lockdown dan work-from-home. Lebih dalam dari itu, produknya bermasalah secara fundamental: hanya bisa di ponsel (tidak ada casting ke TV), tanpa fitur berbagi/tangkapan layar saat peluncuran, dan menawarkan konten berbayar yang harus bersaing dengan bentuk-pendek gratis (TikTok, YouTube, Instagram) sekaligus dengan konten panjang premium (Netflix, Disney+) yang justru diborong orang selama di rumah. Konten Quibi, meski dibintangi nama besar, kurang 'must-watch'. Hasilnya: hanya sekitar 500.000 pelanggan, jauh di bawah target. Pada 21–22 Oktober 2020, hanya enam bulan setelah peluncuran, Quibi mengumumkan tutup setelah gagal menemukan pembeli. Pustaka kontennya dijual ke Roku pada Januari 2021 seharga kurang dari US$100 juta. Pelajaran utama Quibi: uang besar dan nama besar tidak bisa menggantikan product-market fit. Quibi menjawab masalah yang tidak benar-benar dirasakan konsumen, mengabaikan perilaku menonton yang sebenarnya, dan bertaruh besar sekaligus (big-bang launch) alih-alih memvalidasi lewat iterasi. Pandemi adalah pemicu yang memperburuk, tetapi cacat premis dan produk adalah akar masalah yang sesungguhnya.

Baca laporan
13 Jun 2026, 09.54 WIB
Bedah KasusSelesai|E-Commerce / Marketplace Kerajinan (Niche/Vertikal)

Qlapa (PT Qlapa Kreasi Bangsa)

Qlapa adalah marketplace produk kerajinan tangan (handmade) dan kriya lokal asal Indonesia, didirikan pada 2015 oleh Benny Fajarai (CEO) dan Fransiskus Xaverius (CTO). Sering dijuluki 'Etsy-nya Indonesia', Qlapa mengusung misi mulia: menjadi wadah bagi para perajin lokal untuk menjual karya berkualitas — mulai dari batik, tenun, tas dan sepatu kulit, perhiasan, hingga dekorasi rumah — kepada pasar yang lebih luas. Platform ini dicintai dan diakui: pada 2018, Qlapa meraih penghargaan Aplikasi Unik Terbaik dari Google Play Awards dan dinobatkan sebagai salah satu startup paling menjanjikan oleh Forbes Asia. Perusahaan juga mengklaim telah menyalurkan miliaran rupiah kepada para perajin di platformnya, dan menghimpun pendanaan dari investor seperti Global Founders Capital, Ideosource, dan Aavishkaar Frontier Funds. Namun, penghargaan dan misi sosial tidak cukup menjadikannya bisnis yang berkelanjutan. Pada awal Maret 2019, manajemen Qlapa mengumumkan menutup layanannya — kurang dari empat tahun beroperasi — dengan alasan jujur: mereka tidak mampu menjadikan Qlapa sebagai bisnis yang menguntungkan dan berkelanjutan. Lanskap e-commerce Indonesia saat itu didominasi raksasa unicorn (Tokopedia, Bukalapak) dan pemain regional (Shopee, Lazada) yang berperang 'bakar duit' dengan subsidi dan gratis ongkir masif. Sebagai marketplace niche dengan modal jauh lebih kecil, Qlapa terjepit — sementara pasar Indonesia yang sangat sensitif harga, dibanjiri barang murah, kurang bersedia membayar premium untuk produk kerajinan kurasi. Pelajaran utama Qlapa: misi yang mulia, produk yang dicintai, dan pengakuan industri tidak otomatis berarti model bisnis yang sehat. Marketplace vertikal/niche menghadapi tantangan berat melawan platform horizontal raksasa di pasar yang sensitif harga dan dibentuk subsidi — terutama bila willingness-to-pay konsumen atas nilai tambah (kurasi, keaslian, dukungan perajin) tidak cukup kuat untuk menopang margin. Persaingan 'bakar duit' adalah pemicu, tetapi kesulitan memonetisasi diferensiasi niche di pasar sensitif harga adalah akar masalah.

Baca laporan
13 Jun 2026, 09.54 WIB
Bedah KasusSelesai|E-Commerce / Ritel Online (Pet Supplies)

Pets.com

Pets.com adalah peritel online perlengkapan hewan peliharaan asal AS, diluncurkan pada 1998, yang menjadi simbol paling ikonik dari ekses dan keruntuhan gelembung dotcom. Perusahaan ini terkenal bukan karena bisnisnya, melainkan karena maskot boneka kaus kaki (sock puppet) berbentuk anjing — dibuat agensi TBWA dan disuarai komedian Michael Ian Black — yang tampil di acara bincang-bincang, parade Thanksgiving Macy's, dan iklan Super Bowl. Didukung modal ventura besar, termasuk investasi awal dari Amazon (yang sempat memiliki hingga ~50% saham), Pets.com membakar uang untuk pemasaran masif: lebih dari US$35 juta iklan dalam setahun, termasuk iklan Super Bowl jutaan dolar. Masalahnya fatal dan ada sejak awal: model bisnisnya rugi secara struktural. Demi merebut pangsa pasar, Pets.com menjual banyak produk di bawah biaya dan menggelar gratis ongkir — padahal mengirim barang berat dan besar seperti sekarung makanan anjing sangat mahal. Sekarung kibble 18 kg seharga ~US$15 di toko ritel mereka jual dengan harga serupa, lalu menghabiskan US$20 atau lebih untuk mengirimkannya. Perusahaan rugi sekitar 26 sen untuk setiap dolar penjualan, dan biaya akuisisi pelanggan membengkak hingga ~US$400. Pada 11 Februari 2000, Pets.com IPO di harga US$11 per saham (menghimpun ~US$82,5 juta) — hanya sebulan sebelum puncak gelembung Nasdaq. Ketika gelembung pecah pada Maret 2000 dan keran modal ventura mengering, Pets.com kehabisan napas tepat saat paling membutuhkan pendanaan lanjutan. Pada 7 November 2000, perusahaan memberhentikan ~80% karyawan dan berhenti menerima pesanan — hanya 268 hari setelah IPO. Asetnya dilikuidasi; pemegang saham hanya menerima sekitar US$0,09 per saham, dan maskot boneka kaus kaki dijual seharga US$125.000. Pelajaran utama Pets.com: pemasaran yang viral dan modal besar tidak bisa menyelamatkan model bisnis yang rugi secara fundamental. Membakar uang untuk pertumbuhan sebelum unit economics terbukti — premature scaling — adalah jalan pintas menuju kehancuran. Ironisnya, idenya tidak salah, hanya terlalu dini: satu dekade kemudian, Chewy membuktikan ritel hewan peliharaan online bisa sangat sukses dengan infrastruktur logistik dan disiplin biaya yang tepat.

Baca laporan
13 Jun 2026, 09.54 WIB
Bedah KasusSelesai|Online Travel Agent (OTA) / Travel Tech

Pegipegi (PT Go Online Destinations)

Pegipegi adalah salah satu Online Travel Agent (OTA) pelopor di Indonesia, didirikan pada 7 Mei 2012 sebagai patungan tiga perusahaan: Recruit Holdings (Jepang, yang memiliki layanan travel online di negaranya), Alternative Media Group (AMG), dan Altavindo (keduanya Indonesia). Platform diluncurkan secara digital pada Agustus 2013 dan merilis aplikasi mobile pada 2015. Pegipegi menyediakan pemesanan tiket pesawat, hotel, dan kereta api — pada masa operasinya terhubung dengan lebih dari 7.000 hotel, 20.000 rute penerbangan, dan 1.600 rute kereta. Pada 2018, kepemilikan Pegipegi berpindah ketika saham Recruit Holdings diakuisisi oleh JetTech Innovation Ventures, firma modal ventura Singapura yang berafiliasi dengan Traveloka — menjadikan Pegipegi bagian dari grup Traveloka. Selama lebih dari satu dekade, Pegipegi bersaing di pasar OTA Indonesia yang makin terkonsentrasi. Dua tekanan struktural menggerusnya: (1) konsolidasi pasar yang membentuk duopoli Traveloka dan Tiket.com, menyisakan sedikit ruang bagi pemain lain; dan (2) disintermediasi — maskapai penerbangan dan jaringan hotel membangun situs/aplikasi pemesanan langsung sendiri, kerap menawarkan harga lebih murah, promo, dan bonus, sehingga memangkas peran OTA perantara. Ditambah iklim pendanaan yang mengetat dan langkah efisiensi di lingkungan Traveloka (termasuk PHK lintas negara pada awal 2023), induk memutuskan menutup Pegipegi. Pada 11 Desember 2023, setelah hampir 12 tahun, Pegipegi resmi menghentikan layanannya — berhenti menerima pesanan pada 10 Desember 2023 pukul 23.59 WIB. Perusahaan menjamin tiket dan voucher yang sudah dibeli tetap dapat digunakan, serta menyediakan layanan refund/reschedule via email. Pelajaran utama Pegipegi: di pasar yang cenderung 'winner-take-most' dan terancam disintermediasi, menjadi OTA perantara dengan diferensiasi tipis sangat rentan. Persaingan duopoli dan platform direct adalah pemicu, tetapi posisi sebagai perantara komoditas tanpa keunggulan kuat — dan menjadi aset non-inti yang dapat dikonsolidasi induk — adalah akar masalah yang mengakhiri perjalanannya.

Baca laporan
13 Jun 2026, 09.54 WIB
Bedah SuksesAktif|Fintech / Digital Banking / Neobank / Financial Inclusion

Nu Holdings Ltd. (Nubank)

Nubank (NYSE: NU) adalah neobank asal Brazil yang didirikan pada 2013 oleh David Vélez (Kolombia), Cristina Junqueira (Brazil), dan Edward Wible (Amerika Serikat). Lahir dari frustrasi mendalam terhadap sistem perbankan Brazil yang oligopolistis, bertarif tinggi, dan birokratis, Nubank memulai operasinya dengan satu produk sederhana: kartu kredit tanpa biaya tahunan yang sepenuhnya dikelola lewat aplikasi mobile. Pendekatan radikal ini — tidak ada kantor cabang, tidak ada biaya tersembunyi, tidak ada antrean panjang — beresonansi kuat dengan puluhan juta warga Brazil yang selama ini dilayani dengan buruk oleh lima bank besar yang menguasai sekitar 80% pasar. Dalam satu dekade, Nubank tumbuh menjadi bank digital terbesar di dunia berdasarkan jumlah nasabah, melayani lebih dari 131 juta pelanggan di Brazil, Meksiko, dan Kolombia per pertengahan 2025. Pada IPO-nya di NYSE pada Desember 2021, Nubank divaluasi US$45 miliar. Per Juni 2026, kapitalisasi pasarnya mencapai sekitar US$58 miliar. Kinerja keuangan 2024 mencatat pendapatan US$11,5 miliar (naik 58% YoY) dan laba bersih hampir US$2 miliar. Pada 2025, pendapatan penuh tahun mencapai US$16,3 miliar dengan laba bersih US$2,9 miliar. Nubank mendapat persetujuan bersyarat dari OCC Amerika Serikat pada Januari 2026 untuk mendirikan bank nasional, menandai ambisi globalnya yang terus meluas. Keberhasilan Nubank merupakan kombinasi unik antara momentum pasar yang sempurna, eksekusi tanpa kompromi, dan keberuntungan struktural yang tidak mudah direplikasi.

Baca laporan
13 Jun 2026, 09.54 WIB
Bedah KasusSelesai|Ponsel / Consumer Electronics / Mobile OS

Nokia (Bisnis Ponsel)

Nokia pernah menjadi raja telepon seluler dunia yang nyaris tak tergoyahkan. Pada 2007, perusahaan asal Finlandia ini menguasai sekitar separuh pasar ponsel global dan mengapalkan 463 juta unit setahun — nama 'Nokia' identik dengan ponsel itu sendiri, dari legenda tak-bisa-hancur Nokia 3310 hingga lini Symbian yang mendominasi. Tetapi pada tahun yang sama, Apple meluncurkan iPhone, dan setahun kemudian Android tiba. Medan perang bergeser dari perangkat keras dan keypad ke ekosistem perangkat lunak, layar sentuh, dan toko aplikasi — dan Nokia gagal beradaptasi. Kegagalan Nokia adalah konvergensi beberapa faktor. Pertama, kesetiaan buta pada Symbian, sistem operasi warisan yang dirancang untuk era keypad dan memori terbatas, dan tak bisa berevolusi cepat melawan iOS/Android. Kedua, budaya korporasi yang kaku dan penuh ketakutan: manajemen puncak yang arogan setelah bertahun-tahun sukses menekan kabar buruk; insinyur yang memperingatkan Symbian sedang sekarat diabaikan; tim yang mengusulkan pindah ke Android ditolak. Ketiga, kegagalan berinvestasi penuh pada alternatif (MeeGo, yang sempat menjanjikan, dikembangkan setengah hati). Keempat — dan paling fatal — pada 2011 CEO baru Stephen Elop (mantan eksekutif Microsoft) menulis memo 'burning platform' yang mengumumkan kematian Symbian, lalu memilih bertaruh pada Windows Phone ketimbang Android. Pengumuman itu membekukan penjualan ponsel Symbian seketika (efek Osborne) sebelum penggantinya siap, sementara taruhan pada Windows Phone yang sepi terbukti keliru. Dalam enam tahun, pangsa pasar smartphone Nokia anjlok dari 34% (2010) menjadi di bawah 3% (pertengahan 2013); pengapalan runtuh dari 463 juta (2007) ke 4,4 juta (2013), dan nilai perusahaan menguap ~90%. Pada September 2013, Nokia menjual seluruh divisi ponselnya ke Microsoft seharga US$7,2 miliar — pecahan kecil dari nilai puncaknya. (Korporasi Nokia sendiri bertahan dengan berputar ke bisnis infrastruktur jaringan.) Pelajaran utama Nokia: dominasi pasar tidak melindungi dari disrupsi bila budaya menumpulkan kemauan beradaptasi — dan keputusan strategis yang keliru di momen genting bisa mempercepat kejatuhan, bukan mencegahnya.

Baca laporan
13 Jun 2026, 09.54 WIB
Bedah KasusSelesai|Subscription / Hiburan / Bioskop (MovieTech)

MoviePass

MoviePass adalah layanan langganan tiket bioskop asal AS yang didirikan pada 2011 oleh Stacy Spikes dan Hamet Watt. Layanan ini meledak menjadi fenomena pada Agustus 2017, ketika perusahaan induk barunya, Helios & Matheson Analytics (HMNY) yang dipimpin Mitch Lowe, memangkas harga langganan menjadi hanya US$9,95 per bulan untuk menonton (hampir) tanpa batas — satu film per hari. Tawaran yang terdengar terlalu bagus untuk jadi kenyataan ini langsung memikat: pelanggan melonjak dari puluhan ribu menjadi ratusan ribu hanya dalam dua hari, dan menembus lebih dari 3 juta pelanggan dalam waktu setahun. Masalahnya fatal sejak hari pertama: MoviePass membayar harga ritel penuh tiap tiket (sekitar US$9–10) kepada bioskop, tetapi hanya memungut US$9,95 per bulan dari pelanggan. Artinya, begitu seorang pelanggan menonton dua film atau lebih dalam sebulan, perusahaan rugi pada setiap kunjungan tambahan. Pertumbuhan justru memperparah kerugian. Pada 2017 saja MoviePass merugi lebih dari US$150 juta, dan pada pertengahan 2018 membakar kas US$20–40 juta per bulan. Perusahaan panik: membatasi pelanggan menjadi tiga tiket per bulan, terus mengubah skema, bahkan — menurut FTC — sengaja menonaktifkan kata sandi puluhan ribu pelanggan dan memasang 'trip wire' untuk memblokir pengguna yang menonton banyak. MoviePass menghentikan layanannya pada 14 September 2019, dan induknya HMNY mengajukan kebangkrutan Chapter 7 pada Januari 2020. Lebih dari sekadar kegagalan unit economics, kasus ini berujung pidana: regulator menemukan bahwa para eksekutif Ted Farnsworth (CEO HMNY) dan Mitch Lowe (CEO MoviePass) menipu investor — mengklaim secara palsu bahwa skema US$9,95 'unlimited' telah teruji, berkelanjutan, dan akan menguntungkan, padahal mereka mengetahuinya sebagai gimik pemasaran sementara untuk menggelembungkan harga saham HMNY. Keduanya kemudian mengaku bersalah (Lowe 2024, Farnsworth 2025); kerugian investor ditaksir sekitar US$303 juta. Pelajaran utama MoviePass: harga di bawah biaya bukan strategi pertumbuhan, melainkan jalan bunuh diri — dan menutupinya dengan klaim palsu kepada investor adalah penipuan.

Baca laporan
13 Jun 2026, 09.54 WIB
Bedah KasusSelesai|Perbankan Investasi / Jasa Keuangan

Lehman Brothers

Lehman Brothers adalah bank investasi terbesar keempat di AS dengan sejarah 164 tahun (didirikan 1850), yang keruntuhannya pada 15 September 2008 menjadi kebangkrutan terbesar dalam sejarah AS (aset lebih dari US$600 miliar) dan peristiwa mani dari Krisis Keuangan Global 2008. Di bawah CEO veteran Richard 'Dick' Fuld, Lehman menjalankan model bisnis ber-leverage tinggi dan berisiko tinggi — bergantung pada pendanaan jangka pendek (terutama repo) yang harus diperbarui miliaran dolar setiap hari. Mulai 2006, Lehman berinvestasi sangat agresif pada aset terkait real estat, sekuritas berbasis hipotek (MBS), dan subprime — tepat saat pasar perumahan AS mulai memburuk. Kombinasi ini mematikan. Dengan leverage sekitar 30:1, penurunan kecil saja pada nilai aset cukup untuk menghapus ekuitas Lehman. Saat pasar perumahan jatuh, Lehman menanggung kerugian besar pada portofolio sekuritasnya. Untuk menyembunyikan kerapuhan ini, Lehman menggunakan trik akuntansi kontroversial bernama Repo 105 — memindahkan sementara sekitar US$50 miliar kewajiban keluar dari neraca menjelang pelaporan kuartalan (mengklasifikasikan transaksi repo sebagai 'penjualan' karena aset dinilai 105%+ dari kas yang diterima), sehingga leverage tampak lebih rendah dari yang sebenarnya — tanpa diungkapkan kepada pemegang saham. Ketika kepercayaan menguap, para counterparty menuntut jaminan (haircut) yang lebih besar dan harga aset jatuh dalam fire sale, menjepit likuiditas Lehman hingga ia tak mampu lagi mendanai dirinya sendiri. Berbeda dari Bear Stearns (diselamatkan Maret 2008) dan AIG (di-bailout), pemerintah AS memilih tidak menyelamatkan Lehman — keputusan yang masih diperdebatkan hingga kini. Kebangkrutannya memicu kepanikan finansial global, pembekuan kredit, dan Resesi Besar yang berdampak pada jutaan pekerjaan, rumah, dan tabungan di seluruh dunia. Sekitar 25.000 karyawan terdampak; aset Lehman dipecah dan dibeli Barclays serta Nomura. Pelajaran utama Lehman: leverage berlebihan, ketergantungan pada pendanaan jangka pendek, konsentrasi risiko, dan rekayasa akuntansi yang menyembunyikan kerapuhan adalah kombinasi yang mematikan — terutama di institusi yang saling terhubung, di mana kegagalan satu pemain dapat mengguncang seluruh sistem keuangan global.

Baca laporan
13 Jun 2026, 09.54 WIB
Bedah SuksesAktif|Food & Beverage / Grab-and-Go Coffee Chain / New Retail

Kopi Kenangan (PT Bumi Berkah Boga / Kenangan Brands)

Kopi Kenangan, didirikan Agustus 2017 oleh Edward Tirtanata, James Prananto, dan Cynthia Chaerunnisa, adalah jaringan kedai kopi grab-and-go terbesar di Indonesia dan salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Berawal dari satu gerai kecil 12 meter persegi di Menara Standard Chartered Jakarta dengan modal awal US$15.000, Kopi Kenangan menjadi unicorn F&B pertama di Asia Tenggara pada Desember 2021 setelah meraih pendanaan Series C senilai US$96 juta dengan valuasi melampaui US$1 miliar. Konsep bisnisnya sederhana namun powerful: menjembatani gap antara kopi mahal di jaringan internasional (Starbucks ~US$5) dan kopi instan di warung pinggir jalan (~US$0,50) dengan menawarkan kopi berkualitas tinggi seharga ~US$2 melalui model grab-and-go yang memangkas biaya sewa tempat duduk. Hingga akhir 2025, Kopi Kenangan mengoperasikan 1.324 outlet di enam negara (Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, India, Australia) dengan pendapatan US$184 juta dan laba bersih pertama di level grup sebesar US$17 juta. Total pendanaan yang diraih mencapai ~US$240 juta dari investor kelas dunia termasuk Sequoia Capital, GIC, Jay-Z, dan Serena Williams. Perjalanannya tidak selalu mulus — diversifikasi berlebihan pada 2021-2022 menyebabkan kerugian membengkak hingga IDR 452 miliar, sebelum refokus pada bisnis inti membuahkan turnaround yang impresif. Kopi Kenangan kini sedang mempersiapkan IPO dan menargetkan ekspansi ke 550 outlet baru pada 2026.

Baca laporan
13 Jun 2026, 09.54 WIB
Bedah KasusBerlangsung|Fintech P2P Lending

KoinWorks / KoinP2P

KoinWorks (PT Sejahtera Lunaria Annua), didirikan 2016 oleh Benedicto Haryono dan Willy Arifin dengan visi inklusi finansial untuk UMKM, mengalami krisis lewat anak usahanya KoinP2P (PT Lunaria Annua Teknologi). Bermula dari gagal bayar akibat dugaan penipuan borrower pada akhir 2024, masalah berkembang menjadi kasus dugaan korupsi: pada Mei 2026 Kejati DKI Jakarta menahan tiga petinggi KoinP2P terkait dugaan penyaluran dana BRI sekitar Rp 600 miliar dengan agunan invoice yang diduga dimanipulasi dan tanpa penutupan asuransi. TKB90 platform merosot ke 53,37%. Akar masalahnya bukan sekadar borrower nakal — melainkan kombinasi due diligence lemah, dugaan manipulasi agunan yang lolos kontrol internal, konsentrasi risiko, dan tata kelola yang disorot pengamat. Status: proses hukum berjalan, OJK mengawasi ketat, praduga tak bersalah berlaku.

Baca laporan
13 Jun 2026, 09.54 WIB