Konten disusun AI — bisa keliru. Baca disclaimer lengkap
Sentimen Publik
tiket.com (PT Global Tiket Network)
Sentimen mengukur persepsi publik, bukan fakta hukum. Baca metodologi untuk batasan dan bias yang diakui.
Media bisnis dan teknologi Indonesia (Kompas, Bisnis.com, DailySocial, Tempo, Kontan) secara konsisten meliput tiket.com dengan nada positif. Narasi dominan: 'pioneer OTA Indonesia yang bertahan dan bertumbuh', 'zero PHK selama pandemi', 'dari garasi ke IPO'. Liputan khususnya meningkat saat: (1) kebijakan tanpa PHK selama COVID-19 menjadi sorotan positif, (2) IPO Blibli Tiket di BEI 2022, (3) pertumbuhan 34% pendapatan ekosistem pada 2025. Media internasional (The Jakarta Post, KrASIA, Business Wire) juga meliput tiket.com sebagai contoh keberhasilan startup Indonesia. Kritik media minimal — terutama seputar posisi pasar tiket.com yang masih di bawah Traveloka dari sisi market share dan awareness-to-purchase conversion.
Ekosistem startup Indonesia memandang tiket.com sebagai salah satu contoh terbaik startup lokal yang berhasil menavigasi seluruh siklus: founding, growth, akuisisi, pandemi, dan IPO. Para co-founder — terutama Natali Ardianto dan Gaery Undarsa — sering dijadikan pembicara dan role model. Natali menjadi inspirasi bagi serial entrepreneur dengan filosofi 'fokus pada financial control sejak hari pertama'. Gaery diakui dalam Fortune Indonesia '40 Under 40' pada 2023. Cerita tentang empat anak muda yang memulai dari garasi dan memenangkan kompetisi startup US$25.000 menjadi narasi inspiratif yang sering dikutip. Suara kritis dari founder lain menyoroti bahwa keberhasilan tiket.com sangat bergantung pada backing Djarum pasca-2017 — sebuah privilege yang tidak dimiliki mayoritas startup.
Pengguna terbagi: mayoritas positif menyukai kemudahan booking, harga kompetitif, dan kelengkapan produk (pesawat, kereta, hotel, hiburan dalam satu app). Penelitian sentimen terhadap 3.000 ulasan Google Play Store (Oktober 2024 - Februari 2025) menunjukkan proporsi ulasan positif yang signifikan. Namun, kelompok vokal negatif menyoroti: (1) masalah double booking pada pembayaran gagal, (2) customer service yang lambat terutama untuk kasus refund, (3) sistem yang crash saat 'war ticket' konser, (4) keluhan member Diamond yang merasa tidak mendapat perlakuan sesuai ekspektasi. Di sisi karyawan (t-fam), sentimen sangat positif — tiket.com dinobatkan 'Best Company to Work' 5 tahun berturut-turut dan peringkat 5 dalam Happiness Index 2021. Kebijakan zero PHK selama pandemi membangun loyalitas mendalam.
tiket.com memiliki hubungan baik dengan regulator dan pemerintah Indonesia. Status sebagai Partner Resmi Kemenparekraf sejak 2019 menunjukkan dukungan pemerintah. Program 'Jagoan Pariwisata' bersama Kemenparekraf memberdayakan UMKM di desa wisata — selaras dengan agenda pemerintah memajukan pariwisata lokal. Keanggotaan GSTC dan inisiatif tiket Green menunjukkan kepatuhan terhadap standar internasional pariwisata berkelanjutan. Sebagai bagian dari ekosistem Blibli Tiket yang sudah IPO di BEI, tiket.com tunduk pada regulasi pasar modal Indonesia — menambah lapisan transparansi dan tata kelola.
Di media sosial, sentimen terbelah berdasarkan konteks. Sisi positif: cerita inspiratif para founder sering viral di LinkedIn dan Instagram, kampanye promosi tiket.com (TIX Points, Tiket Paylater) mendapat engagement baik, dan program CSR mendapat apresiasi. Sisi negatif muncul saat: (1) sistem booking crash pada war ticket konser populer — memicu keluhan masif di Twitter/X, (2) pengguna mempublikasikan pengalaman buruk dengan customer service di Media Konsumen, (3) perbandingan dengan Traveloka yang sering dimenangkan dari sisi fitur PayLater dan user experience. Rating 4.0+ di Google Play Store menunjukkan kepuasan umum, tapi ulasan satu bintang yang detail tentang masalah refund menjadi sorotan.
Kutipan Terpilih
“Dari angel investor sampai diakuisisi Blibli, ini jalan panjang tiket.com — sebuah perjalanan startup Indonesia dari garasi hingga menjadi bagian dari ekosistem digital terbesar milik konglomerat Djarum.”
Artikel retrospektif Bisnis.com yang menelusuri seluruh perjalanan tiket.com dari founding hingga akuisisi. Framing positif sebagai kisah sukses startup Indonesia.
“Tiket.com bertahan melewati pandemi tanpa melakukan satu pun PHK karyawan inti — sebuah pencapaian langka di industri travel yang mengalami penurunan hingga 75%.”
Liputan Kompas tentang strategi tiket.com bertahan selama pandemi. Menyoroti keputusan tanpa PHK sebagai langkah berani dan berhasil.
“Traveloka secara signifikan melampaui Tiket.com dalam mengonversi kesadaran merek menjadi niat pembelian: 67% vs 48%. Meski awareness tinggi (80%), tiket.com masih kalah dalam konversi.”
Data riset pasar YouGov yang menunjukkan gap konversi antara awareness dan purchase intent, memberikan perspektif bahwa meskipun brand awareness tinggi, tiket.com masih tertinggal dari Traveloka.
“Startup Indonesia sering mengabaikan kontrol atas arus keuangan bisnis mereka. Saya lebih suka memikirkan bagaimana perusahaan bisa bertahan satu dekade bahkan tanpa investasi baru, daripada terus mencari sumber pendanaan untuk bertahan hidup.”
Filosofi bisnis Natali yang ia terapkan di tiket.com setelah belajar dari kegagalan di Urbanesia dan Golfnesia. Menjadi prinsip finansial yang mendasari ketahanan perusahaan.
“Sumber daya manusia adalah aset perusahaan yang paling besar. Kami meyakini bahwa menjaga karyawan di masa sulit adalah investasi, bukan beban.”
Filosofi Gaery yang mendasari keputusan zero PHK selama pandemi. Menegaskan bahwa prioritas perusahaan adalah kenyamanan karyawan, bukan sekadar angka penjualan tinggi.
“Gaery Undarsa, co-founder dan CMO tiket.com, berhasil mengubah startup teknologi kecil menjadi salah satu platform booking travel dan hiburan terbesar di Asia Tenggara, dan diakui dalam Fortune Indonesia '40 Under 40'.”
Profil Gaery Undarsa di Tatler Asia yang mengakui pencapaiannya sebagai salah satu pioneer OTA Indonesia yang sukses. Menunjukkan pengakuan regional atas peran co-founder.
“Sampai hari ini, karyawan tidak dikurangi satu pun karena alasan COVID-19 dan tidak ada pemotongan gaji. Kami memangkas biaya marketing hingga 90% dan mengalihkan lebih dari 100 orang menjadi customer service.”
Pernyataan CPO tiket.com yang mengkonfirmasi kebijakan zero PHK dan strategi realokasi karyawan selama pandemi — langka di industri travel yang terpuruk.
“Website sangat mudah dan gampang, deskripsi jelas, memudahkan saat ingin pesan tiket pesawat, kereta, bahkan hotel. Aplikasi sangat bagus dan disarankan.”
Sentimen representatif dari ulasan positif pengguna di platform review. Mencerminkan apresiasi terhadap kemudahan penggunaan dan kelengkapan layanan tiket.com.
“Service yang sangat lambat dan sistem yang sangat buruk. Saya memesan tiket pesawat, pembayaran gagal, memesan lagi hari yang sama, dan menghasilkan 2 tiket aktif untuk penerbangan yang sama. Customer service tidak memberikan solusi yang memuaskan.”
Keluhan spesifik pengguna tentang masalah double booking dan customer service lambat. Menunjukkan area layanan yang masih perlu diperbaiki.
“tiket.com sebagai pioneer OTA di Indonesia mengakui tanggung jawab mempromosikan akomodasi ramah lingkungan dan mendukung komunitas lokal melalui inisiatif ESG untuk menumbuhkan budaya pariwisata yang bertanggung jawab.”
Pengumuman resmi GSTC tentang bergabungnya tiket.com sebagai anggota. Menunjukkan pengakuan lembaga standar internasional terhadap komitmen ESG tiket.com.
“tiket.com dinobatkan sebagai Best Company to Work for in Asia selama 5 tahun berturut-turut sejak 2020 oleh HR Asia. Rahasia mereka: budaya HAPPY — Hungry, Agile, People-Oriented, Performance Driven, Yourself.”
Analisis platform HR tentang budaya kerja tiket.com yang berhasil meraih penghargaan konsisten. Menunjukkan reputasi positif sebagai tempat kerja di ekosistem startup Indonesia.
“Permasalahan dunia ticketing di Indonesia termasuk sistem yang sering crash saat war ticket konser, membuat pengguna frustrasi karena lonjakan trafik yang tidak diantisipasi dengan baik.”
Kritik terhadap infrastruktur ticketing platform OTA termasuk tiket.com yang sering tidak mampu menangani lonjakan trafik saat penjualan tiket konser populer.
“Dua pemain besar dalam industri OTA Indonesia — Traveloka dan Tiket.com — bersaing ketat untuk merebut hati konsumen. Kedua perusahaan berupaya menawarkan inovasi terbaru guna mempertahankan dan memperluas pangsa pasar mereka.”
Analisis kompetitif yang memetakan persaingan OTA Indonesia. Menempatkan tiket.com sebagai pemain kedua setelah Traveloka tapi tetap sebagai kompetitor serius.
“63% wisatawan kini sudah familiar dengan konsep sustainable travel, 67% pernah menginap di akomodasi ramah lingkungan, dan sekitar 69% ingin berkontribusi pada pelestarian lingkungan.”
Data riset tiket.com tentang kesadaran wisatawan terhadap pariwisata berkelanjutan, menunjukkan upaya perusahaan memposisikan diri sebagai pemimpin sustainable travel di Indonesia.