Konten disusun AI — bisa keliru. Baca disclaimer lengkap

Kembali ke laporan

Sentimen Publik

Qlue

9 Juli 2026|metode 1.0|Claude — riset web langsung (tanpa Anthropic API)|n=25
Rentang: 1 Desember 20149 Juli 2026Metodologi

Sentimen mengukur persepsi publik, bukan fakta hukum. Baca metodologi untuk batasan dan bias yang diakui.

Media
Campuran

Media mainstream Indonesia (Tirto, Kompas, CNN Indonesia, detikcom) meliput Qlue dengan nada campuran: mengapresiasi inovasi dan dampak sosialnya di era Ahok, tetapi mengkritik penurunan relevansi pasca-pergantian gubernur. Banyak liputan membingkai Qlue sebagai korban politik — produk bagus yang nasibnya ditentukan oleh siapa yang berkuasa. Liputan teknologi (DailySocial, CompassList, KrASIA) lebih positif tentang pivot B2B tetapi tetap skeptis tentang skalabilitas.

Founder
Positif

Rama Raditya konsisten mempromosikan visi smart city dan kontribusi Qlue dalam wawancara publik. Namun kepergiannya ke TransJakarta pada 2024 berbicara lebih keras dari kata-kata — tindakannya mengindikasikan bahwa ia sendiri melihat prospek Qlue terbatas. Maya Arvini meninggalkan Qlue untuk Microsoft bahkan lebih awal (2022). Komunitas founder Indonesia umumnya menghormati Rama sebagai builder yang genuine.

Pihak Terdampak
Campuran

Warga Jakarta yang aktif menggunakan Qlue di era Ahok merasa kehilangan ketika aplikasi tidak lagi efektif di era Anies. Ketua RT/RW yang pernah diwajibkan mengirim laporan harian memiliki sentimen campuran — sebagian menganggap kewajiban itu membebani, sebagian lain menghargai akuntabilitas yang dihasilkan. Klien enterprise (Sinar Mas Land, Agung Sedayu) tampaknya puas dengan produk B2B tetapi tidak ada testimoni publik yang menonjol.

Regulator
Netral

Pemerintah daerah (di luar Jakarta) yang mengadopsi Qlue tidak memberikan komentar publik yang signifikan tentang efektivitasnya. Pemprov DKI di era Anies secara diam-diam menggantikan Qlue tanpa konfrontasi — lebih memilih membangun JAKI sendiri. Tidak ada regulasi yang secara eksplisit melarang atau mendukung Qlue. Pengamat tata kota mengkritik konsep smart city secara umum (bukan spesifik Qlue) sebagai 'euforia teknologi' tanpa landasan hukum yang memadai.

Sosial Media
Campuran

Diskusi tentang Qlue di media sosial sangat terpolarisasi mengikuti garis politik Ahok-Anies. Pendukung Ahok memuji Qlue sebagai bukti pemerintahan efisien dan mengkritik Anies karena menggantikannya. Pendukung Anies menganggap JAKI lebih baik dan Qlue hanya 'branding era Ahok.' Debat ini memuncak saat Debat Capres 2023 ketika Anies membanggakan JAKI dan PDIP membandingkannya dengan Qlue. Diskusi teknis tentang kualitas produk Qlue sangat minim — hampir seluruh sentimen sosmed terpolitisasi.

Kutipan Terpilih

Nasib Qlue Pasca-Ahok: Masih Penting Tapi Aduannya Tambah Ngawur. Kewajiban ketua RT dan RW mengunggah laporan kegiatan tiga kali setiap hari melalui Qlue dihapuskan setelah era Ahok.
Tirto
Media

Judul dan ringkasan artikel investigasi Tirto yang menggambarkan penurunan kualitas Qlue pasca-Ahok.

Qlue mulai ditinggalkan warga Jakarta. Banyak warga enggan melaporkan lewat Qlue karena menganggap laporannya tidak akan ditindaklanjuti di era pemerintahan baru.
Medcom / MetroTV News
Media

Laporan media televisi tentang penurunan penggunaan Qlue pasca-pergantian gubernur.

Ada Qlue yang digarap Ahok, pengamat sebut aplikasi Jakarta Aman yang diluncurkan Anies mubazir.
Tribun Jakarta
Media

Pengamat menilai pembuatan aplikasi serupa oleh pemerintahan baru sebagai pemborosan.

Qlue lebih bermanfaat buat masyarakat dibanding JAKI. Keluhan warga direspons lebih cepat di era Ahok. Yang dibutuhkan masyarakat itu penyelesaian masalah, bukan aplikasi yang tampilannya lebih bagus.
Gilbert Simanjuntak (PDIP DKI)
Sosial Media

Pernyataan politisi PDIP membandingkan Qlue dan JAKI saat Debat Capres 2023.

Kami menggunakan laporan warga sebagai 'sensor' — menggantikan solusi mahal seperti computer vision dan IoT — karena murah, cepat, dan sangat efektif. Semua orang sudah mengeluh di media sosial, kami hanya memberi kanal yang produktif.
Rama Raditya (Founder & CEO Qlue)
Founder

Wawancara tentang filosofi pendekatan Qlue terhadap smart city — citizen engagement di atas high-tech.

Kami sudah self-sustaining sejak Juli-Agustus tahun ini. Kami yakin bisa profitable dalam 12 bulan ke depan. Formula-nya sederhana: kurangi biaya, tingkatkan revenue.
Rama Raditya (Founder & CEO Qlue)
Founder

Pernyataan optimistis tentang profitabilitas pada 2019 — belum terbukti tercapai secara berkelanjutan.

Koordinasi buruk, laporan warga di Qlue terabaikan. Puluhan aduan yang diterima setiap hari tidak bisa ditangani langsung oleh 70 petugas PPSU per kelurahan.
Tirto
Pihak Terdampak

Investigasi tentang ketidakmampuan birokrasi menangani volume laporan Qlue.

Program Anies-Sandi 'bantai' aplikasi Qlue buatan Ahok. Qlue tidak lagi dijadikan indikator kinerja camat dan lurah — hanya digunakan sebagai data tambahan Jakarta Smart City.
Warta Kota / Tribunnews
Media

Judul provokatif yang menggambarkan bagaimana kebijakan baru Anies secara efektif mematikan Qlue.

Qlue berdampak mengurangi titik banjir dari 8.000 menjadi 450, menurunkan pungutan liar 72%, dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap kinerja Pemprov DKI dari 34% menjadi 97%.
GSMA Mobile for Development
Media

Evaluasi dampak independen oleh GSMA yang memvalidasi efektivitas teknologi Qlue.

Qlue memungkinkan pemerintah dan enterprise mengintegrasikan solusi AI surveillance ke kamera CCTV yang sudah ada namun underutilized, termasuk facial recognition, intrusion detection, dan behavioral analysis.
ICMG Co-Creation Fund
Media

Deskripsi teknis dari investor Jepang saat mengumumkan investasi — menunjukkan pivot Qlue ke surveillance.

Realisasi smart city perlu landasan hukum. Regulasi belum ada, konsep dasar mengenai kota cerdas belum dipahami secara menyeluruh — baik oleh pemerintah pusat maupun daerah.
Pengamat tata kota (via Bisnis Indonesia)
Regulator

Kritik terhadap absennya kerangka regulasi smart city di Indonesia yang berdampak pada keberlanjutan bisnis Qlue.

Anies banggakan aplikasi JAKI saat debat capres, PDIP bandingkan dengan Qlue era Ahok. JAKI disebut hanya 'ganti nama' dari program yang sudah ada.
Merdeka.com
Sosial Media

Liputan tentang perdebatan politik mengenai Qlue vs JAKI yang menunjukkan betapa terpolitisasinya isu ini.