Konten disusun AI — bisa keliru. Baca disclaimer lengkap

Bedah KasusBerlangsung|Hospitality / Travel Tech / Budget Hotel Aggregator|Didirikan 2013|12 mnt baca

OYO Rooms (Oravel Stays Limited)

Bagikan:LinkedInXWhatsApp

Ringkasan

Apa yang Terjadi

OYO Rooms — awalnya bernama Oravel Stays — adalah startup hospitality asal India yang didirikan pada 2013 oleh Ritesh Agarwal saat berusia 19 tahun. Berangkat dari pengamatan bahwa hotel budget di India memiliki kualitas yang sangat tidak konsisten, Agarwal membangun platform yang bermitra dengan hotel-hotel kecil, memstandarisasi kualitasnya, dan memasarkannya di bawah merek OYO. Didukung oleh SoftBank Vision Fund dan investor besar lainnya, OYO menghimpun total pendanaan lebih dari US$3,4 miliar dan pernah divaluasi hingga US$10 miliar pada 2019.

Dengan modal besar itu, OYO menerapkan strategi blitzscaling — ekspansi agresif ke lebih dari 80 negara termasuk Indonesia, China, Eropa, dan AS, mengklaim memiliki 1,2 juta kamar. Namun pertumbuhan secepat kilat ini mengorbankan kualitas: keluhan pelanggan melonjak, mitra hotel memberontak karena tunggakan pembayaran dan kontrak yang dianggap tidak adil, dan kontrol kualitas runtuh. Pada 2019, protes mitra hotel meletus di puluhan kota India.

Ketika COVID-19 melanda pada 2020, model bisnis yang sudah rapuh ini ambruk. OYO melakukan PHK massal, mundur dari puluhan pasar internasional, dan valuasinya anjlok 75% menjadi US$2,4–2,7 miliar. Upaya IPO yang pertama kali diajukan pada 2021 gagal berulang kali — DRHP ditarik dan diajukan ulang hingga tiga kali karena masalah regulasi, keuangan, dan keberatan dari SoftBank sendiri.

Pelajaran utama OYO: pertumbuhan yang dibiayai modal raksasa tanpa fondasi operasional yang kuat adalah resep bencana. Blitzscaling tanpa kontrol kualitas dan hubungan mitra yang sehat menghasilkan merek yang besar tapi rapuh — besar di atas kertas, tetapi dibangun di atas fondasi yang retak.

Kronologi

Urutan Kejadian

Fakta

Ritesh Agarwal meluncurkan Oravel Stays

Pada 2012, Ritesh Agarwal (18 tahun) meluncurkan Oravel Stays sebagai platform listing akomodasi budget, mirip Airbnb untuk India. Proyek ini lahir dari pengalamannya berkeliling India dan menemukan bahwa hotel murah memiliki kualitas yang sangat tidak konsisten — kamar kotor, AC rusak, dan layanan buruk menjadi hal biasa.

Fakta

Menerima Thiel Fellowship; pivot ke OYO Rooms

Agarwal menerima Thiel Fellowship senilai US$100.000 dari Peter Thiel pada 2013 — hibah bergengsi untuk entrepreneur muda. Dengan dana dan validasi ini, ia melakukan pivot dari sekadar listing menjadi model yang lebih ambisius: bermitra langsung dengan hotel budget, memstandarisasi kualitas kamar (kebersihan, AC, Wi-Fi, perlengkapan mandi), dan memasarkannya di bawah merek OYO Rooms. Operasi dimulai dengan 5 hotel di Gurgaon.

Fakta

Term sheet akuisisi ZO Rooms dari Zostel

OYO menandatangani term sheet untuk mengakuisisi ZO Rooms (milik Zostel) dalam kesepakatan all-stock yang akan memberikan pemegang saham Zostel 7% ekuitas OYO. Kesepakatan ini kemudian menjadi sengketa hukum bertahun-tahun — OYO mengklaim term sheet bersifat non-binding dan expired, sementara Zostel mengklaim itu mengikat. Sengketa ini baru berakhir di Mahkamah Agung India pada Juli 2025, dimenangkan OYO.

Fakta

Menghimpun US$1 miliar di Series E; valuasi US$5 miliar

OYO meraih pendanaan US$800 juta dalam Series E yang dipimpin SoftBank Vision Fund dengan partisipasi Lightspeed, Sequoia, dan Greenoaks Capital, membawa valuasi ke US$5 miliar. Total pendanaan kumulatif menembus US$1 miliar. Dengan modal ini, OYO mulai ekspansi agresif ke China, Asia Tenggara (termasuk Indonesia dengan komitmen investasi US$100 juta), dan pasar lainnya.

Fakta

Buyback saham US$2 miliar oleh Ritesh Agarwal

Ritesh Agarwal, melalui entitas RA Hospitality Holdings (Cayman Islands), menandatangani kesepakatan US$2 miliar untuk membeli kembali saham dari investor awal (Sequoia dan Lightspeed) guna meningkatkan kepemilikannya menjadi 30%. Dana diperoleh dari pinjaman bank Jepang (Nomura dan Mizuho). Langkah ini kontroversial — pada puncak valuasi US$10 miliar, dengan saham sebagai jaminan — dan terbukti sangat buruk timing-nya ketika COVID melanda 8 bulan kemudian.

Klaim

Puncak ekspansi: 80+ negara, 1,2 juta kamar

Pada puncaknya di 2019, OYO mengklaim beroperasi di lebih dari 80 negara dengan 1,2 juta kamar — menjadikannya salah satu jaringan hotel terbesar di dunia berdasarkan jumlah kamar. Namun pertumbuhan ini dicapai dengan mengorbankan kualitas: banyak properti tidak memenuhi standar, mitra hotel mengeluh, dan pelanggan kecewa. OYO juga mengakuisisi @Leisure Group (Eropa, US$415 juta), Innov8 (co-working), dan Hooters Casino Hotel (Las Vegas, US$135 juta).

Fakta

Protes mitra hotel meletus di puluhan kota India

Mulai Agustus 2019, mitra hotel OYO melakukan protes independen di berbagai kota India — Nashik, Pune, Kota, Manali, Jaipur, Ahmedabad, Bhopal, Delhi, dan lainnya. Keluhan utama: tunggakan pembayaran (total lebih dari INR 5 Cr dari ~100 hotel), biaya tersembunyi (promotional fee, convenience fee, walk-in fee), diskon dalam yang merugikan mitra, dan kontrak yang dianggap tidak adil. Di Sikkim, mitra hotel bahkan menyandera 4 karyawan OYO. FIR diajukan terhadap Ritesh Agarwal atas dugaan wanprestasi.

Fakta

Series F US$1,5 miliar — valuasi puncak US$10 miliar

OYO meraih pendanaan Series F senilai US$1,5 miliar yang dipimpin SoftBank, Lightspeed, dan Sequoia India, membawa valuasi ke puncak US$10 miliar. Ironisnya, pendanaan ini terjadi bersamaan dengan gelombang protes mitra hotel dan meningkatnya keluhan pelanggan — sebuah kontras tajam antara persepsi investor dan realitas operasional di lapangan.

Fakta

COVID-19 menghancurkan model bisnis; PHK massal dan retreat global

Pandemi COVID-19 memukul industri hospitality secara brutal. OYO yang sudah rapuh secara operasional ambruk: pendapatan runtuh, model jaminan minimum kepada mitra menjadi tak bisa dipenuhi, dan kas menipis. OYO melakukan PHK massal (ratusan karyawan di berbagai gelombang), mundur dari puluhan pasar internasional termasuk sebagian besar AS dan Eropa, dan memangkas operasi India dari 550 kota menjadi 400 kota. Valuasi anjlok dari US$10 miliar ke sekitar US$2,7 miliar.

Fakta

IPO pertama diajukan ke SEBI — valuasi target US$9 miliar

OYO (melalui Oravel Stays) mengajukan DRHP (Draft Red Herring Prospectus) ke regulator pasar modal India (SEBI) pada September 2021, menargetkan penggalangan Rs 8.430 Cr dengan valuasi US$9 miliar. Namun SEBI mengembalikan DRHP pada Januari 2023, meminta pembaruan soal KPI, litigasi, dan valuasi — menandai awal dari saga IPO yang berlarut-larut.

Fakta

DRHP IPO ditarik untuk kedua kalinya

Pada Mei 2024, OYO menarik DRHP-nya untuk kedua kalinya dari SEBI, dengan rencana untuk mengajukan ulang setelah menyelesaikan refinancing utang senilai US$450 juta. Ini adalah kegagalan IPO kedua dalam tiga tahun, menunjukkan betapa sulitnya OYO meyakinkan regulator dan investor publik.

Fakta

Valuasi anjlok ke US$2,4 miliar — 76% di bawah puncak

OYO menghimpun US$175 juta dalam putaran pendanaan baru, sebagian besar dari entitas investasi pendirinya sendiri (Patient Capital). Valuasi ditetapkan pada US$2,4 miliar — turun 76% dari puncak US$10 miliar di 2019. Total investasi yang pernah masuk ke OYO sebesar US$3,47 miliar kini bernilai jauh di bawah modal yang ditanamkan.

Fakta

SEBI akhirnya menyetujui IPO — setelah 4,5 tahun

Pada 5 Juni 2026, SEBI akhirnya memberikan persetujuan (observations letter) untuk IPO OYO sebagai bagian dari batch lima IPO yang disetujui pada hari yang sama. Ini terjadi setelah 4,5 tahun, tiga kali pengajuan DRHP, restrukturisasi bisnis menyeluruh, dan penurunan target valuasi yang dramatis — dari US$9 miliar menjadi sekitar US$3–4 miliar. OYO sendiri telah mencatat laba bersih pertama (Rs 229 Cr di FY24) dan laba FY25 melonjak ke Rs 623 Cr.

Diagram akar masalah — setiap cabang adalah insight yang didalami di bagian bawah

Aktor & Insentif

Siapa yang Terlibat

Peta aktor yang terlibat dalam kasus

Ritesh Agarwal — Founder & CEO

Peran dalam Kasus

Arsitek utama visi dan strategi blitzscaling OYO. Keputusan untuk ekspansi ke 80+ negara, buyback saham US$2 miliar dengan leverage (di puncak valuasi), dan mengutamakan pertumbuhan di atas profitabilitas adalah keputusan-keputusan kunci yang membentuk trajektori perusahaan. Meskipun kontroversial, Agarwal berhasil membawa OYO ke profitabilitas pada FY24 setelah melakukan restrukturisasi besar-besaran.

Insentif

Entrepreneur muda dari kota kecil Odisha yang memulai karier dengan menjual kartu SIM. Penerima Thiel Fellowship pada usia 19 tahun. Insentif: membangun jaringan hotel terbesar di dunia, mengstandardisasi pengalaman hotel budget, dan membuktikan bahwa founder India bisa membangun perusahaan global.

SoftBank Vision Fund — Investor Utama

Peran dalam Kasus

Menyuntikkan miliaran dolar yang memungkinkan — dan mendorong — ekspansi agresif OYO ke 80+ negara. Model investasi SoftBank yang menekankan 'growth at all costs' dikritik luas karena menghasilkan portofolio dengan pertumbuhan besar tapi fundamental lemah (WeWork, Katerra, dan OYO sendiri). SoftBank kemudian memangkas valuasi OYO dan menunda IPO karena keberatan atas kinerja keuangan.

Insentif

Mega-fund senilai US$100 miliar yang dipimpin Masayoshi Son, terkenal dengan strategi investasi besar untuk mendorong blitzscaling portofolionya. Insentif: imbal hasil dari pertumbuhan cepat OYO menjadi pemain hospitality global.

Investor Lain — Sequoia India, Lightspeed, Greenoaks, Airbnb, Didi Chuxing

Peran dalam Kasus

Menyediakan modal yang membiayai ekspansi dan akuisisi OYO. Sequoia dan Lightspeed adalah investor awal yang kemudian menjual saham mereka kepada Ritesh Agarwal dalam buyback US$2 miliar di 2019 — sebuah exit yang dilakukan pada puncak valuasi.

Insentif

VC dan strategis global yang turut mendanai pertumbuhan OYO (total >US$3,4 miliar). Insentif: imbal hasil dari platform hospitality yang disruptif di pasar besar.

Mitra Hotel — Pemilik Hotel Budget (India & Global)

Peran dalam Kasus

Tulang punggung operasi OYO yang justru paling dirugikan oleh model bisnis agresif perusahaan. Banyak mitra mengeluhkan tunggakan pembayaran, biaya tersembunyi, deep discounting sepihak, dan kontrak yang dianggap tidak adil. Protes meletus di puluhan kota India pada 2019, FIR diajukan terhadap manajemen OYO, dan beberapa asosiasi hotel membentuk koalisi anti-OYO.

Insentif

Ratusan ribu pemilik hotel kecil yang bermitra dengan OYO untuk mendapatkan peningkatan okupansi, akses ke platform booking, dan standardisasi merek. Kepentingan mereka: pendapatan stabil dan hubungan bisnis yang adil.

Pelanggan / Tamu Hotel — Pengguna OYO

Peran dalam Kasus

Menjadi korban langsung dari krisis kualitas OYO. Keluhan melimpah di platform review: foto yang menyesatkan, kamar kotor, pembatalan sepihak, penolakan saat check-in meski sudah booking, dan kesulitan mendapatkan refund. Trustpilot dan TripAdvisor dipenuhi review negatif yang merusak reputasi merek OYO.

Insentif

Jutaan traveler yang mencari akomodasi terjangkau dengan kualitas terjamin di bawah merek OYO. Kepentingan mereka: kamar bersih, harga transparan, dan pengalaman sesuai ekspektasi.

SEBI — Regulator Pasar Modal India

Peran dalam Kasus

Mengembalikan DRHP OYO pada 2023 karena kekhawatiran atas KPI, litigasi, dan valuasi. Proses ini memaksa OYO untuk melakukan restrukturisasi menyeluruh dan menurunkan target valuasi secara dramatis sebelum akhirnya mendapat persetujuan pada Juni 2026.

Insentif

Regulator yang bertanggung jawab melindungi investor publik di pasar modal India. Kepentingan: memastikan perusahaan yang IPO memiliki fundamental dan disclosure yang memadai.

Insight untuk Founder

Pelajaran dari Kasus Ini

1

Blitzscaling Tanpa Fondasi Operasional = Merek Besar, Kualitas Rapuh

💥

Apa yang Terjadi

Dengan modal miliaran dolar dari SoftBank, OYO berekspansi ke 80+ negara dan mengklaim 1,2 juta kamar dalam waktu singkat. Namun pertumbuhan ini jauh melampaui kapasitas operasional: kontrol kualitas tidak bisa mengikuti, standardisasi gagal ditegakkan, dan pengalaman pelanggan runtuh. OYO pada akhirnya berkompetisi dengan dirinya sendiri — ada beberapa hotel OYO di satu jalan yang sama.

🔄

Polanya

Blitzscaling mengutamakan kecepatan di atas segalanya, dengan asumsi bahwa masalah kualitas bisa diperbaiki setelah skala tercapai. Dalam bisnis hospitality yang sangat bergantung pada pengalaman langsung, pendekatan ini menghancurkan kepercayaan pelanggan dan merek.

🚩

Tanda Bahaya Dini

  • Kecepatan onboarding mitra jauh melampaui kapabilitas quality assurance
  • Keluhan pelanggan melonjak tapi diabaikan demi target pertumbuhan
  • Beberapa properti OYO di satu jalan — kompetisi internal
  • Tim lokal tidak cukup untuk mengawasi ribuan properti
🛡️

Aksi Pencegahan

  • Tetapkan rasio maksimal properti per tim quality control
  • Jangan mengorbankan standar minimum demi target akuisisi mitra
  • Bangun sistem monitoring kualitas real-time sebelum skala
  • Ukur NPS dan repeat booking sebagai metrik utama, bukan hanya jumlah kamar
2

Model 'Minimum Guarantee' yang Tidak Berkelanjutan

💥

Apa yang Terjadi

OYO menarik mitra hotel dengan menjanjikan pembayaran minimum bulanan, terlepas dari okupansi aktual. Model ini efektif untuk akuisisi mitra, tetapi menjadi beban finansial besar ketika okupansi tidak memenuhi target — terutama saat COVID-19. OYO kemudian mengubah model ke revenue-sharing, tetapi kerusakan hubungan dengan mitra sudah terlanjur terjadi.

🔄

Polanya

Menjanjikan pendapatan minimum kepada mitra platform adalah strategi akuisisi jangka pendek yang menciptakan kewajiban jangka panjang. Ketika asumsi pertumbuhan tidak terpenuhi, perusahaan harus memilih antara menepati janji (dan kehabisan kas) atau mengingkari (dan kehilangan mitra).

🚩

Tanda Bahaya Dini

  • Kewajiban minimum guarantee yang bertumbuh lebih cepat dari pendapatan
  • Gap antara janji kontrak dan kemampuan delivery
  • Mitra bergabung karena jaminan finansial, bukan karena value proposition
  • Tekanan kas meningkat meski jumlah mitra bertambah
🛡️

Aksi Pencegahan

  • Hindari model minimum guarantee pada skala besar
  • Gunakan revenue-sharing dari awal — menyelaraskan insentif
  • Jika harus menjamin, batasi durasi dan jumlahnya
  • Pastikan model bisnis profitable per unit sebelum scaling
3

Leveraged Buyback di Puncak Valuasi — Timing yang Fatal

💥

Apa yang Terjadi

Pada Juli 2019, Ritesh Agarwal meminjam US$2 miliar dari bank Jepang untuk membeli kembali saham dari investor awal pada valuasi puncak US$10 miliar. Delapan bulan kemudian, COVID-19 melanda, pendapatan OYO runtuh, dan valuasi anjlok. Agarwal memiliki utang miliaran dolar yang dijaminkan dengan saham yang nilainya jatuh drastis.

🔄

Polanya

Leveraged buyback pada puncak valuasi adalah taruhan bahwa valuasi akan terus naik atau setidaknya stabil. Ketika faktor eksternal menghancurkan asumsi ini, posisi leverage justru memperburuk krisis karena menambah beban utang pada saat kas paling dibutuhkan.

🚩

Tanda Bahaya Dini

  • Founder meminjam miliaran untuk membeli saham perusahaan sendiri
  • Transaksi terjadi pada puncak valuasi historis
  • Saham yang belum likuid dijadikan jaminan utang
  • Tidak ada hedging terhadap risiko penurunan valuasi
🛡️

Aksi Pencegahan

  • Hindari leveraged buyback pada valuasi puncak tanpa stress test
  • Pertimbangkan risiko black swan (pandemi, resesi) dalam struktur deal
  • Diversifikasi sumber dan timing pembelian saham
  • Jangan menggunakan saham startup illiquid sebagai satu-satunya jaminan
4

Konflik dengan Mitra Platform = Bom Waktu Reputasi

💥

Apa yang Terjadi

OYO menghadapi gelombang protes dari mitra hotel di puluhan kota India: tunggakan pembayaran, biaya tersembunyi, deep discounting sepihak, dan kontrol listing yang tidak dikembalikan setelah partnership berakhir. Di Sikkim, mitra hotel menyandera karyawan OYO. Asosiasi hotel membentuk koalisi anti-OYO. FIR diajukan terhadap manajemen.

🔄

Polanya

Platform yang memperlakukan mitra sebagai komoditas — bukan partner — menciptakan hubungan yang eksploitatif. Ketika mitra memberontak secara terorganisir, kerusakan reputasi jauh lebih besar daripada penghematan jangka pendek dari praktik-praktik yang agresif.

🚩

Tanda Bahaya Dini

  • Protes mitra di banyak kota secara bersamaan
  • Pembentukan asosiasi anti-platform
  • FIR dan tuntutan hukum dari mitra
  • Keluhan soal kontrak yang tidak adil dan biaya tersembunyi
🛡️

Aksi Pencegahan

  • Perlakukan mitra sebagai stakeholder, bukan target eksploitasi
  • Transparansi penuh soal biaya, potongan, dan kebijakan harga
  • Buat mekanisme penyelesaian sengketa yang adil
  • Pantau kepuasan mitra sebagai KPI strategis
5

Saga IPO: Ketika Realitas Keuangan Tidak Sesuai Narasi Pertumbuhan

💥

Apa yang Terjadi

OYO mengajukan IPO pertama pada September 2021 dengan target valuasi US$9 miliar. SEBI mengembalikan DRHP pada 2023. OYO mengajukan ulang, lalu menarik lagi pada Mei 2024. SoftBank sendiri menolak karena keberatan atas kinerja keuangan. Baru pada Juni 2026 — setelah 4,5 tahun dan tiga pengajuan — SEBI memberikan persetujuan, dengan target valuasi yang jauh lebih rendah (US$3–4 miliar).

🔄

Polanya

Ketika narasi pertumbuhan venture capital bertemu dengan scrutiny pasar publik, gap antara klaim dan realitas terekspos. Regulator dan investor publik menuntut standar yang jauh lebih tinggi daripada investor VC — profitabilitas nyata, bukan proyeksi.

🚩

Tanda Bahaya Dini

  • DRHP ditarik dan diajukan ulang berkali-kali
  • Investor terbesar (SoftBank) sendiri menolak timeline IPO
  • Gap besar antara valuasi privat dan ekspektasi pasar publik
  • Litigasi dan masalah regulasi belum terselesaikan saat pengajuan
🛡️

Aksi Pencegahan

  • Siapkan IPO jauh sebelum dibutuhkan — bukan saat cash runway menipis
  • Pastikan fundamental keuangan memenuhi standar pasar publik
  • Selesaikan litigasi material sebelum pengajuan
  • Jangan mengandalkan narasi pertumbuhan tanpa dukungan angka
6

SoftBank Effect: Modal Raksasa Bisa Menjadi Racun

💥

Apa yang Terjadi

SoftBank menyuntikkan miliaran dolar yang memungkinkan OYO berekspansi ke 80+ negara dalam waktu singkat. Namun modal ini juga mendorong perilaku yang tidak sehat: ekspansi tanpa profitabilitas, akuisisi yang tidak perlu (kasino di Las Vegas, perusahaan vacation rental Eropa), dan tekanan untuk terus menunjukkan pertumbuhan. Pola ini serupa dengan portofolio SoftBank lainnya — WeWork, Katerra, Brandless, Wag — yang semuanya mengalami masalah serupa.

🔄

Polanya

Modal berlebih tanpa disiplin menciptakan moral hazard: founder dan manajemen terdorong untuk membakar kas demi metrik pertumbuhan, bukan membangun bisnis yang berkelanjutan. Tekanan dari investor untuk 'grow or die' mempercepat ekspansi prematur.

🚩

Tanda Bahaya Dini

  • Pendanaan jauh melebihi kebutuhan operasional saat ini
  • Investor mendorong 'blitzscaling' sebagai strategi default
  • Akuisisi besar di luar kompetensi inti (kasino, co-working)
  • Pola portofolio investor menunjukkan track record masalah serupa
🛡️

Aksi Pencegahan

  • Terima pendanaan sesuai kebutuhan, bukan semaksimal mungkin
  • Pertahankan disiplin unit economics meski modal berlimpah
  • Evaluasi track record investor — apakah portofolionya sehat?
  • Jangan biarkan tekanan investor menggeser prioritas dari profitabilitas ke pertumbuhan semata

Sentimen Publik

Bagaimana Publik Memandang

23 Juni 2026|metode 1.0|Claude — riset web langsung (tanpa Anthropic API)|n=28
Rentang: 1 Januari 201923 Juni 2026Metodologi

Sentimen mengukur persepsi publik, bukan fakta hukum. Baca metodologi untuk batasan dan bias yang diakui.

Media
Campuran

Media teknologi dan bisnis (TechCrunch, Bloomberg, Skift, Inc42) dominan membingkai OYO sebagai studi kasus blitzscaling yang gagal: mengakui visi inovatif Ritesh Agarwal dan pencapaiannya sebagai founder muda, namun sangat kritis terhadap eksekusi — ekspansi agresif tanpa kontrol kualitas, konflik mitra hotel, dan penurunan valuasi dramatis. Liputan terbaru lebih seimbang seiring turnaround profitabilitas, tetapi nada historis tetap kritis-analitis.

Founder
Positif

Ritesh Agarwal konsisten membela visi OYO dan menekankan inovasi, misi menstandardisasi hotel budget, serta pencapaian turnaround. Jarang mengakui kesalahan strategis secara publik. Respons terhadap protes mitra cenderung defensif ('baseless allegations'). Suara founder adalah minoritas tetapi sangat vokal.

Pihak Terdampak
Negatif

Dua kelompok terdampak utama — mitra hotel dan pelanggan — dominan bersentimen negatif. Mitra hotel melakukan protes di puluhan kota, membentuk koalisi anti-OYO, dan mengajukan FIR serta tuntutan hukum atas tunggakan pembayaran dan praktik bisnis yang dianggap tidak adil. Pelanggan membanjiri platform review dengan keluhan soal kualitas kamar, foto menyesatkan, refund yang sulit, dan layanan pelanggan yang buruk.

Regulator
Negatif

SEBI mengembalikan DRHP OYO pada 2023 karena kekhawatiran atas KPI, litigasi, dan valuasi — sinyal bahwa regulator tidak puas dengan disclosure dan fundamental perusahaan. Proses ini berlarut 4,5 tahun sebelum persetujuan diberikan, menunjukkan tingkat skeptisisme regulasi yang tinggi. Baru pada Juni 2026, setelah OYO mencatat profitabilitas dan menurunkan target valuasi secara drastis, SEBI memberikan persetujuan.

Sosial Media
Negatif

Diskusi di media sosial (Twitter/X, LinkedIn, Reddit, Blind) mayoritas negatif — cerita horor pelanggan di hotel OYO, karyawan yang di-PHK membagikan pengalaman mereka, dan meme tentang kualitas OYO. Di India, OYO kerap menjadi bahan sindiran tentang kualitas hotel murah. Meski ada segmen yang mengapresiasi harga terjangkau OYO, sentimen negatif mendominasi.