Konten disusun AI — bisa keliru. Baca disclaimer lengkap

Kembali ke laporan

Sentimen Publik

Jejakin (PT Jejak Enviro Teknologi)

2 Juni 2026|metode v1.0|Claude Opus 4.6 + web search|n=30
Rentang: 1 Januari 20201 Juni 2026Metodologi

Sentimen mengukur persepsi publik, bukan fakta hukum. Baca metodologi untuk batasan dan bias yang diakui.

Media
Positif

Liputan media sangat luas dan konsisten positif — dari media nasional (ANTARA, Kompas, Liputan6) hingga media tech regional (KrASIA, TechNode Global, DealStreetAsia, Nikkei Asia) dan Microsoft News Center. Narasi dominan: 'pionir climate tech Indonesia', 'platform karbon terintegrasi pertama', 'startup yang bermitra dengan korporat besar'. Perlu dicatat: sebagian liputan mungkin dipengaruhi PR, terutama yang bersumber dari pengumuman perusahaan.

Founder
Positif

Arfan Arlanda articulate dan mission-driven dalam setiap wawancara — menekankan problem-solving bukan hype. East Ventures secara vokal mendukung misi Jejakin. ITM Bhinneka Power (lead investor) menghubungkan investasi dengan target ENDC pemerintah. Namun founder juga realistis mengakui tantangan: Indonesia 'a bit behind' Singapore dalam regulasi karbon, dan menerjemahkan ilmu kehutanan ke teknologi adalah tantangan terbesar.

Pihak Terdampak
Positif

Pihak terdampak positif: klien korporat (Gojek/GoTo, Telkomsel, Bank Mandiri, Kemenparekraf) yang mengintegrasikan Jejakin ke layanan mereka; 1 juta+ pengguna GoGreener; mitra konservasi (One Tree Planted, LindungiHutan); dan 10.000+ pekerja lapangan yang terlibat monitoring. Catatan penting: tidak ditemukan review pengguna independen platform CarbonIQ — kita tidak tahu kepuasan klien di luar press release.

Regulator
Campuran

Pengamat industri terpecah. Positif: regulasi Indonesia makin mendukung (IDXCarbon, Perpres 110/2025, IFRS S1/S2 roadmap), dan Jejakin diposisikan baik untuk memanfaatkan ini. Negatif: kritikus (Greenpeace, WALHI, AMAN, peneliti Lowy Institute) mengkritik keras ekosistem carbon offset sebagai 'solusi palsu', 'izin untuk terus mencemari', dan berpotensi merampas hak masyarakat adat. Meta-analisis: hanya 16% proyek offset deliver klaim. COP30: Indonesia hanya berhasil secure US$2,75 juta dari target US$960 juta — credibility gap besar.

Sosial Media
Positif

Presence sosmed relatif kecil untuk startup 8 tahun dengan 30+ klien korporat: Instagram @jejak_in 18K followers, LinkedIn 200+ followers. Konten edukasi climate action dan kolaborasi klien. Tidak ditemukan diskusi organik/viral di Twitter/X atau forum publik. Ini bisa karena fokus B2B (bukan consumer-facing), tapi juga menandakan brand awareness publik yang masih rendah.

Kutipan Terpilih

The initial idea was actually quite simple — we wanted to help. We saw that many companies were engaging in tree-planting activities, but often these initiatives were merely ceremonial and lacked long-term impact.
Arfan Arlanda, CEO & Founder Jejakin (wawancara East Ventures)
Founder

Motivasi pendirian yang jujur — mengakui masalah di industri konservasi, bukan sekadar mencari peluang bisnis.

When it comes to market maturity in Southeast Asia, Singapore is ahead. They already have a carbon tax in place and well-defined regulations. Indonesia, I would say, is a bit behind, but there has been significant progress.
Arfan Arlanda, CEO & Founder Jejakin
Founder

Founder yang realistis mengakui posisi Indonesia relatif terhadap pasar regional — bukan overselling.

Jejakin's mission truly aligns with East Ventures' commitment to catalyzing environmental stewardship and bringing positive impacts to our planet.
Avina Sugiarto, Partner East Ventures
Founder

Dukungan vokal dari investor utama — perlu dicatat ini dari pihak yang berkepentingan.

Gojek pioneers carbon footprint reduction efforts for consumers with new innovation — the first super app in the world to enable B2C carbon offset in ride-hailing.
The Jakarta Post (liputan peluncuran GoGreener)
Media

Media besar meng-highlight pencapaian 'pertama di dunia' dari kolaborasi Gojek-Jejakin.

Fitur Carbon Offset GoTo Group dan Jejak.in Resmi Diadopsi Kemenparekraf untuk website Indonesia.travel.
Kompas (headline)
Pihak Terdampak

Endorsement pemerintah — Kemenparekraf mengadopsi teknologi Jejakin untuk pariwisata nasional.

Carbon trading is chosen just to allow companies and industrialized nations to keep extracting natural resources. It is a license to keep polluting.
Uli Arta Siagian (Forest Campaign Manager, WALHI) & Arie Rompas (Forest Campaigner, Greenpeace Indonesia)
Regulator

Kritik keras terhadap ekosistem carbon offset secara umum — tidak menyebut Jejakin spesifik, tapi langsung relevan dengan basis bisnis perusahaan.

Indonesia has built the outline of a carbon market but not yet the institutions to make it credible. There's a lot of junk carbon credits that are not proven to be reducing emissions.
Mohd Yunus, Independent Researcher, Khon Kaen University & Torry Kuswardono, Yayasan PIKUL
Regulator

Kritik terhadap credibility pasar karbon Indonesia — konteks penting untuk memahami risiko lingkungan bisnis Jejakin.

Perdagangan karbon adalah solusi palsu mengatasi krisis iklim. Setiap perusahaan yang mengumumkan dana untuk melindungi hutan melalui skema carbon offset hanya melakukan greenwashing.
Khalisah Khalid, Greenpeace Indonesia
Regulator

Kritik paling keras — menyebut seluruh skema carbon offset sebagai greenwashing. Penting untuk keseimbangan narasi.

Beberapa tantangan terbesar yang kami hadapi di antaranya adalah dalam pengembangan produk: bagaimana menerjemahkan ilmu kehutanan yang cukup kompleks ke dalam teknologi informasi.
Arfan Arlanda (wawancara Youngster.id)
Founder

Founder mengakui tantangan nyata — kejujuran tentang kesulitan, bukan sekadar optimisme.

It is a huge market, but often overlooked. Right now, many people assume that these groups [MSMEs] aren't the target market for carbon calculations. That is exactly the gap we wanted to address.
Arfan Arlanda (soal ekspansi ke UMKM)
Founder

Visi ekspansi ke segmen UMKM yang underserved — ambisi yang sejalan dengan diperkenalkannya Jejakin oleh BI Jateng di event UMKM Grande 2026.