Konten disusun AI — bisa keliru. Baca disclaimer lengkap
Sentimen Publik
Elevenia
Sentimen mengukur persepsi publik, bukan fakta hukum. Baca metodologi untuk batasan dan bias yang diakui.
Liputan media (CNN Indonesia, Kompas, Selular.ID, CNBC Indonesia) membingkai Elevenia sebagai 'nasib tragis' e-commerce yang kalah bersaing. Framing dominan: perusahaan yang pernah menduduki peringkat 3 tetapi 'terpaksa lempar handuk' karena ketidakmampuan mengimbangi strategi bakar uang kompetitor. Nada kritis terhadap model bisnis dan keputusan investor.
Pernyataan publik dari pihak pendiri/investor cenderung defensif namun mengakui kegagalan. Dian Siswarini (CEO XL Axiata) secara terbuka menyatakan bahwa bisnis e-commerce tidak menguntungkan dan terlalu capital-intensive. Sugiharto Darmakusuma (CEO era Salim) lebih optimistis di awal tetapi tidak berhasil membalikkan tren. Tidak ada narasi positif dari manajemen saat penutupan.
Penjual (seller) dan pengguna Elevenia memiliki sentimen bercampur: beberapa mengapresiasi platform yang nyaman (pencairan dana cepat, customer service 24 jam, interface lengkap), namun banyak yang mengeluhkan proses administratif rumit, seller tidak responsif, dan pada akhirnya kehilangan kanal penjualan tanpa pemberitahuan memadai. Karyawan juga terdampak PHK tanpa kejelasan publik.
Percakapan di forum (Kaskus) dan media sosial menunjukkan sentimen negatif dominan: kekecewaan atas kualitas layanan yang menurun sebelum penutupan, keluhan soal pengalaman belanja yang semakin buruk, dan narasi umum 'satu lagi e-commerce yang gagal'. Beberapa pengguna lama mengekspresikan nostalgia bercampur kritik.
Kutipan Terpilih
“Mereka berani investasi besar untuk pemasaran, kita tak bisa ikuti gaya seperti itu.”
Pernyataan saat menjelaskan alasan XL Axiata melepas Elevenia pada 2017. Mengakui ketidakmampuan bersaing dengan kompetitor berdana raksasa.
“Kalau bisnis seperti ini kan yang besar yang akan menang, kalau mau terus di situ akan butuh dana besar.”
Pernyataan lanjutan yang menegaskan bahwa e-commerce adalah permainan skala di mana hanya pemain terbesar yang bertahan.
“Nasib tragis Elevenia — sempat jadi e-commerce nomor tiga di Indonesia, kini terpaksa lempar handuk.”
Framing media atas penutupan Elevenia — menekankan kontras antara kejayaan masa lalu dan nasib akhir yang tragis.
“Efektif per hari ini kami menutup layanan www.elevenia.co.id. Terima kasih telah menjadi mitra kami selama ini.”
Pengumuman penutupan resmi tanpa penjelasan detail. Sifatnya singkat dan formal — tidak memberikan konteks mengapa layanan ditutup.
“Namanya belakangan mulai meredup dan kalah bersaing dengan marketplace kompetitor seperti Tokopedia, Shopee, Lazada, maupun pemain besar lainnya yang jor-joran menerapkan strategi bakar duit.”
Analisis media atas penyebab penutupan — menekankan bahwa Elevenia tidak mampu mengimbangi spending agresif kompetitor.
“E-commerce yang gagal berinovasi akhirnya tertinggal dan menjadi tidak relevan bagi pengguna.”
Penilaian umum terhadap e-commerce yang tutup di Indonesia, termasuk Elevenia. Menekankan bahwa inovasi (bukan sekadar modal) menjadi kunci kelangsungan.
“Banyak e-commerce yang terlalu bergantung pada pendanaan eksternal tanpa membangun model bisnis yang menguntungkan. Ketika investor berhenti mendanai, mereka langsung menghadapi kesulitan finansial.”
Pelajaran dari gelombang penutupan e-commerce Indonesia — Elevenia termasuk salah satu contoh utama.
“Setelah Elevenia, who next? Penutupan Elevenia menambah daftar panjang e-commerce yang gugur dalam persaingan yang makin brutal.”
Pertanyaan retoris yang menunjukkan bahwa penutupan Elevenia dipandang sebagai bagian dari tren sistemik, bukan insiden terisolasi.
“Situs belanja daring Elevenia resmi menutup layanan per 1 Desember 2022. Sebelum tutup, Elevenia memiliki layanan B2B dan berencana memfokuskan bisnis ke segmen tersebut.”
Pelaporan faktual tentang penutupan dan rencana pivot ke B2B.
“Elevenia makin mengecewakan.”
Thread Kaskus berisi keluhan pengguna atas penurunan kualitas layanan Elevenia — mulai dari seller yang tidak responsif hingga proses administratif yang rumit.
“Kalah modal, ini toko online RI yang ditinggal kabur investor.”
Framing media yang menempatkan Elevenia dalam konteks e-commerce yang 'ditinggal' investor karena tidak mampu bersaing dari segi modal.
“XL Axiata memilih fokus pada core business sebagai operator telekomunikasi dan tidak ingin membuat EBITDA perusahaan rusak gegara bisnis e-commerce yang masih harus bakar uang.”
Analisis mengapa XL Axiata meninggalkan Elevenia — menunjukkan bahwa bisnis e-commerce dianggap sebagai beban, bukan peluang, bagi perusahaan telko.