Konten disusun AI — bisa keliru. Baca disclaimer lengkap
Sentimen Publik
Coupang, Inc.
Sentimen mengukur persepsi publik, bukan fakta hukum. Baca metodologi untuk batasan dan bias yang diakui.
Liputan media terhadap Coupang terbagi dalam dua era yang sangat berbeda. Hingga pertengahan 2025, media bisnis global (CNBC, Fortune, Bloomberg, TechCrunch) secara konsisten membingkai Coupang sebagai 'Amazon of Asia' — kisah sukses luar biasa dari seorang dropout Harvard yang membangun raksasa e-commerce senilai US$60 miliar. Fortune 500 debut (2023), profitabilitas pertama, dan akuisisi Farfetch mendapat liputan sangat positif. Namun sejak November 2025, narasi bergeser drastis: kebocoran data 33,7 juta pengguna, denda rekor US$409 juta, penyelidikan manipulasi algoritma, dan kematian pekerja menjadi headline dominan. Media Korea (The Korea Herald, Korea Times, KED Global) secara khusus menjadi lebih kritis, mempertanyakan tata kelola perusahaan dan sikap 'arogan' CEO interim Harold Rogers di sidang parlemen. Media global tetap menyoroti fundamental bisnis yang kuat, tapi dengan caveat yang semakin banyak.
Di kalangan ekosistem startup dan VC global, Coupang tetap dianggap sebagai salah satu kisah sukses paling mengesankan. Bom Kim dihormati karena: (1) keberanian membatalkan IPO demi pivot radikal, (2) kesabaran membangun infrastruktur 13 tahun sebelum profitabel, (3) kemampuan menarik US$3 miliar dari SoftBank. Greenoaks Capital, yang mengalokasikan 40% dananya ke Coupang, sering disebut sebagai salah satu taruhan VC terbaik sepanjang masa. Narasi 'membangun hard things' dan 'long-term founder-led leadership' dari Kim menjadi pelajaran di kalangan founder. Namun reputasi personal Kim mulai terganggu oleh tuduhan kurangnya akuntabilitas atas kondisi pekerja dan respons kebocoran data yang dianggap tidak memadai.
Kelompok yang terdampak Coupang terbagi tajam. Konsumen — dengan 14 juta pelanggan WOW yang secara aktif membayar keanggotaan — menunjukkan kepuasan tinggi terhadap kecepatan Rocket Delivery dan integrasi ekosistem (e-commerce, food delivery, streaming). Dua pertiga rumah tangga Korea berlangganan WOW. Namun kelompok lain sangat vokal dalam kritik: (1) 33,7 juta korban kebocoran data yang menganggap kompensasi voucher 50.000 won sebagai 'penghinaan' karena bersifat non-tunai dan mendorong belanja kembali di Coupang, (2) keluarga pekerja yang meninggal di pusat logistik, terutama ibu Jang Deok-joon yang menjadi simbol kampanye melawan kondisi kerja, (3) 200.000+ merchant yang merasa dirugikan oleh self-preferencing algoritma Coupang. Kenaikan harga WOW 58% pada April 2024 juga memicu gelombang kekecewaan, meskipun dampaknya pada churn relatif terbatas.
Sikap regulator Korea terhadap Coupang semakin keras sejak 2024. Korea Fair Trade Commission (KFTC) menjatuhkan denda US$121,5 juta atas manipulasi algoritma dan review palsu, serta menolak upaya penyelesaian damai untuk investigasi Coupang Eats. Personal Information Protection Commission menjatuhkan denda rekor US$409 juta atas kebocoran data, ditambah US$132 juta untuk pelanggaran praktik pengumpulan data. National Tax Service meluncurkan investigasi pajak terhadap Coupang dan Bom Kim. Anggota DPR Korea secara publik mengkritik sikap 'arogan' pimpinan Coupang di sidang parlemen. Beberapa politisi AS menyuarakan keprihatinan bahwa scrutiny berlebihan terhadap Coupang bisa merusak hubungan dagang AS-Korea — menambah dimensi geopolitik pada tekanan regulasi.
Sentimen media sosial terhadap Coupang fluktuatif mengikuti siklus berita. Secara umum, pengguna Korea menghargai kenyamanan Rocket Delivery — Coupang memiliki brand recognition yang sangat tinggi dan menjadi 'utility' sehari-hari bagi jutaan rumah tangga. Namun setidaknya tiga gelombang sentimen negatif besar terjadi: (1) kampanye boikot #DeleteCoupang dan #CancelCoupangMembership pasca kebakaran gudang Icheon 2021 dan kematian pekerja, (2) backlash atas kenaikan harga WOW 58% pada April 2024 di mana pengguna menyebutnya 'greedy', dan (3) gelombang kemarahan terbesar pasca kebocoran data November 2025, dengan hashtag anti-Coupang kembali viral dan kritik tajam terhadap kompensasi voucher. Komplikasi tambahan: kebocoran data memicu sentimen anti-China karena pelakunya adalah mantan karyawan berkewarganegaraan China, meski kelompok masyarakat sipil memperingatkan bahwa framing ini mengalihkan tanggung jawab Coupang.
Kutipan Terpilih
“Coupang telah merevolusi e-commerce dan menetapkan standar baru untuk bagaimana e-commerce bisa dilakukan di seluruh dunia. SoftBank berharap dapat mendukung Coupang saat mereka terus merevolusi e-commerce.”
Pernyataan resmi Masayoshi Son saat mengumumkan investasi US$1 miliar di Coupang pada Juni 2015, menunjukkan keyakinan kuat terhadap model bisnis Coupang.
“Apa yang tampak seperti kutukan saat itu — bahwa kami harus membangun seluruh infrastruktur ini, dan membangun teknologi untuk mengintegrasikan semuanya, end-to-end, dari nol, sendirian — ternyata menjadi berkah luar biasa.”
Refleksi Kim tentang keputusan 2013 untuk membangun infrastruktur logistik sendiri, yang awalnya tampak seperti beban namun menjadi keunggulan kompetitif utama.
“Dalam hanya 10 tahun, Coupang dengan cepat naik menjadi retailer online terbesar di Korea Selatan — mencegah Amazon maupun Alibaba memiliki pijakan yang berarti di kawasan ini.”
CNBC meliput bagaimana Coupang berhasil mempertahankan pasar domestik dari raksasa e-commerce global, menjadikannya salah satu dari sedikit pasar besar di mana Amazon tidak dominan.
“Bekerja di gudang terasa seperti berada di dalam panci mendidih. Tidak ada yang pergi ke toilet, jadi mereka menahan air seni mereka.”
Kesaksian pekerja gudang Coupang yang menggambarkan kondisi kerja ekstrem, termasuk suhu tinggi dan ketidakmampuan menggunakan toilet. Kutipan ini menjadi viral dan memperkuat narasi kritik terhadap kondisi kerja Coupang.
“Kematian akibat kerja berlebihan, terutama kerja malam, dan kondisi tenaga kerja yang buruk — khususnya di pusat logistik — adalah penyebab utama kematian. Coupang secara agresif meningkatkan intensitas kerja dan shift malam demi pengiriman yang lebih cepat.”
Pernyataan dari organisasi advokasi pekerja yang mendokumentasikan 19 kematian pekerja sejak 2020, menghubungkan kematian dengan tekanan produktivitas dan shift malam yang panjang.
“Coupang baru saja profitabel, yang akhirnya membuktikan bahwa membangun infrastruktur end-to-end dari nol — meski menyakitkan — bisa berhasil jika skalanya cukup besar.”
Fortune menyoroti pencapaian profitabilitas Coupang sebagai validasi strategi infrastruktur berat yang ditempuh selama 13 tahun, saat menyertakan Coupang di daftar Fortune 500.
“Kelompok konsumen mengecam keputusan Coupang menawarkan kupon non-tunai sekali pakai alih-alih pengembalian uang langsung, dengan alasan bahwa sebagian besar kupon memerlukan pembelian tambahan — secara efektif mengarahkan pengguna kembali ke ekosistem Coupang.”
Kritik terhadap rencana kompensasi Coupang senilai 1,7 triliun won yang dianggap self-serving: voucher belanja yang mendorong pengguna kembali berbelanja, bukan pemulihan kepercayaan yang tulus.
“Mengungkapkan kewarganegaraan karyawan tampaknya bertujuan untuk mengecilkan tanggung jawab Coupang atas insiden tersebut.”
Kelompok sipil memperingatkan bahwa framing kebocoran data sebagai 'masalah orang China' mengalihkan perhatian dari kegagalan tata kelola keamanan Coupang sendiri, sekaligus memicu sentimen anti-China yang berbahaya.
“SoftBank Vision Fund membukukan laba rekor US$36,99 miliar berkat keuntungan dari IPO Coupang — kontribusi utama pada laba tahunan terbesar dalam sejarah perusahaan Jepang.”
IPO Coupang menjadi salah satu investasi paling menguntungkan dalam portofolio SoftBank Vision Fund, membantu SoftBank Group mencatatkan laba terbesar dalam sejarah korporasi Jepang.
“Boikot dimulai pertengahan Juni ketika seorang petugas pemadam kebakaran tewas dalam kebakaran di gudang Coupang di selatan Seoul. Pengguna Twitter dan Instagram membagikan tagar tentang membatalkan keanggotaan Coupang dan memposting foto yang menunjukkan mereka telah menghapus akun.”
Kampanye boikot organik pasca kebakaran gudang Icheon 2021 yang viral di media sosial Korea, menunjukkan bagaimana insiden keselamatan bisa memicu aksi konsumen terorganisir.
“Anggota WOW menghabiskan tiga kali lebih banyak daripada non-anggota, dan frekuensi pesanan mereka sembilan kali lipat. Setelah Coupang memperkenalkan diskon 50% untuk pesanan Eats bagi anggota, pesanan Eats dari kelompok WOW melonjak 90%.”
Analisis yang menunjukkan efektivitas luar biasa Rocket WOW membership dalam mendorong engagement dan cross-selling lintas ekosistem Coupang.
“Peningkatan harga mendadak ini mendapat kritik dari pengguna yang menganggapnya berlebihan. Komunitas online melihat reaksi keras dari pelanggan setia yang telah lama mendukung Coupang, dengan beberapa mengancam membatalkan keanggotaan.”
Reaksi publik terhadap kenaikan harga WOW membership 58% pada April 2024, menunjukkan sensitivitas harga meskipun basis pelanggan loyal.
“Coupang diduga memanipulasi algoritmanya untuk menaikkan ranking pencarian sekitar 60.000 produk miliknya sendiri, dan memobilisasi sekitar 2.000 karyawan untuk menulis setidaknya 70.000 review untuk produk private-label, sementara membatasi eksposur produk dari lebih dari 200.000 merchant.”
Ringkasan tuduhan KFTC terhadap Coupang yang menunjukkan skala praktik self-preferencing yang sistematis, memengaruhi ratusan ribu merchant pihak ketiga.
“Scrutiny Korea yang intens terhadap Coupang berisiko merusak hubungan perdagangan AS-Korea.”
Dimensi geopolitik dari tekanan regulasi Korea terhadap Coupang: sebagai perusahaan terdaftar di NYSE dengan CEO warga negara AS, kasus Coupang menjadi isu hubungan bilateral AS-Korea.
“Di bawah kepemilikan Coupang, kerugian Farfetch menyusut drastis hingga mendekati breakeven tanpa kehilangan skala yang signifikan. Pada kuartal keempat 2024, platform luxury fashion yang sebelumnya merugi berbalik menjadi laba dengan EBITDA disesuaikan sebesar US$30 juta.”
Turnaround Farfetch di bawah Coupang dipandang positif oleh media industri fashion, menunjukkan kemampuan operasional Coupang untuk memperbaiki bisnis yang troubled.
“Perilaku CEO Coupang mendorong otoritas regulasi untuk berjanji memberikan sanksi yang lebih ketat.”
Headline Korea Times di akhir 2025 yang mencerminkan eskalasi ketegangan antara Coupang dan regulator Korea, dipicu oleh sikap pimpinan perusahaan yang dianggap tidak kooperatif.